Lompat ke isi utama

Berita

Lolly Suhenty: Humas Bawaslu Jangan Tipis Telinga Hadapi Kritik Publik

LOLLY BOGOR

Anggota Bawaslu Lolly Suhenty saat memberikan sambutan pada kegiatan Refleksi dan Transformasi Kehumasan Bawaslu: Membangun Kepercayaan Publik dan Penguatan Partisipasi Masyarakat Menuju Pemilu Berintegritas, Bogor, Kamis (24/9/2026).

Bogor, Jawa Barat - Anggota Bawaslu Lolly Suhenty menegaskan jajaran Kehumasan Bawaslu harus terbuka terhadap kritik masyarakat. Menurutnya, kritik publik perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kinerja sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap Bawaslu.

“Humas Bawaslu tidak boleh tipis telinga terhadap kritik masyarakat,” ujar Lolly saat membuka kegiatan Refleksi dan Transformasi Kehumasan Bawaslu: Membangun Kepercayaan Publik dan Penguatan Partisipasi Masyarakat Menuju Pemilu Berintegritas, Bogor, Kamis (24/9/2026).

Lolly menilai, salah satu penyebab munculnya kritik terhadap Bawaslu adalah masih minimnya informasi yang diterima masyarakat mengenai kerja-kerja pengawasan. Karena itu, menurutnya, kerja Bawaslu perlu dikomunikasikan secara optimal melalui berbagai kanal media yang tersedia.

“Sebab, sekuat apa pun kita bekerja, jika tidak menggunakan seluruh daya untuk mewartakannya melalui berbagai kanal media yang dimiliki, masyarakat akan sedikit yang mengetahui cara kerja Bawaslu,” ujarnya.

Selain terbuka terhadap kritik, Lolly menekankan pentingnya Humas Bawaslu memiliki “netral rasa” dalam menjalankan fungsi komunikasi. Prinsip tersebut diperlukan agar setiap informasi yang disampaikan tetap objektif dan tidak dipengaruhi oleh penilaian subjektif.

“Titik objektivitas itu penting. Dengan demikian, ketika ada yang menilai kinerja kita sudah baik, belum terlalu baik, atau masih jauh dari baik, kita bisa menjawabnya melalui informasi yang objektif,” ungkap Lolly.

Menurut Lolly, kritik masyarakat harus direspons melalui perbaikan kinerja, bukan sekadar dengan narasi pembelaan. Dalam konteks tersebut, Humas memiliki peran strategis sebagai penghubung antara kerja-kerja Bawaslu dengan masyarakat.

“Begitu ada kritik, berarti ada PR (pekerjaan rumah) bagaimana Humas bisa menjadi jembatan informasi sekaligus jembatan kepercayaan publik,” tambahnya.

Lebih lanjut, Lolly menegaskan fungsi Humas Bawaslu tidak berhenti pada kegiatan menyampaikan dan mewartakan informasi. Kehumasan juga dituntut mampu mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengawasan Pemilu.

“Target Humas Bawaslu itu jelas yakni komunikasi menuju partisipasi. Tolong forum ini digunakan untuk memperkaya cara kerja kita, dari yang sekadar mengomunikasikan dan mewartakan, berkembang menjadi membangun partisipasi. Jika tidak, Kehumasan Bawaslu akan jalan di tempat,” tutup Lolly.***

Penulis: Gunawan Kusmantoro

Foto: Gunawan Kusmantoro

 

Tag
Bawaslu, Lolly Sehenty, humas, kritik, tipis telinga, netral rasa, partisipasi